Pemilik Wardah Cosmetics: Halal Harus Bermutu

Screenshot_13

JAKARTA — Satu dekade paling akhir, nama Wardah sudah mengemuka sebagai kosmetik memiliki loabel halal. Satu diantara merk dibawah bendera PT Paragon Technology and Innovation (PTI) itu dikira menjawab keperluan riasan syariah beberapa Muslimah.

Tetapi, pendiri PTI Nurhayati Subakat menyampaikan, bukanlah bermakna dianya semata jual citra product Wardah sebagai pelopor kosmetik halal. Terdapat beberapa hal yang ia kerjakan sepanjang meniti merk itu mulai sejak awal sampai saat ini disukai.

” Rencana yang sejak dari dahulu saya kerjakan yaitu bikin product dengan kwalitas bagus dengan harga berkompetisi, ” tutur perempuan kelahiran Padang Panjang, 27 Juli 1950 itu.

Ia mewanti-wanti diri supaya tidak terjerat dengan memercayakan label halal saja. Menurut Nurhayati, produsen tak dapat ‘memaksa-maksa’ umat Islam beli satu product dengan embel-embel syariah namun tak bagus mutunya.

Mutu product, menurut Nurhayati, yaitu keharusan nomor satu yang butuh dipenuhi. Tidak cuma itu, jaminan kwalitas juga mesti disertai dengan harga terjangkau supaya product tetaplah bertahan dengan cara berkepanjangan di market.

Ibu tiga anak itu kembali kenang kilas balik perjalanan Wardah yang menurut dia tidak senantiasa mulus, bahkan juga penuh duri. Awalnya, Wardah Cosmetics launching pada 1995, kerja sama pada perusahaan PT Pustaka Kebiasaan Ibu punya Nurhayati dengan Pesantren Hidayatullah.

Launching awal itu macet, bahkan juga dimaksud Nurhayati tidak berhasil keseluruhan lantaran belum diiringi profesionalitas dalam penjualan serta pemasaran. Wardah yang bermakna bunga mawar dalam bhs Arab waktu itu belum dapat merekah prima tunjukkan pesonanya.

Pada titik itu Nurhayati belajar semakin banyak tentang pemasaran product halal. Tulisan Arab plus slogan ‘kosmetika suci serta aman’ pada paket bukanlah jaminan semuanya umat Muslim di Indonesia ingin melirik serta berpindah memakai.

Apoteker ITB yang memperoleh predikat lulusan paling baik pada 1976 itu meyakini, kwalitas produknya sudah terjamin. Jadi, ia meramu beragam inovasi lain yang sangat mungkin Wardah di terima orang-orang, termasuk juga melibatkan ketiga anaknya dalam perusahaan mulai 2003.

Strateginya tak kian lebih prinsip marketing mix yang bisa diaplikasikan dalam semua usaha. Poinnya yaitu product (product), harga (price), distribusi (place), serta promosi (promotion), dengan sedikit modifikasi ala Nurhayati.

” Bila beberapa orang gunakan 4P, saya gunakan 5P, huruf ‘P’ setelah itu yaitu pertolongan Allah, ” papar perempuan yang sudah meniti industri rumahan mulai sejak 1985 dengan product awal Putri, merk perawatan rambut untuk salon.

Penyuka traveling itu mengatakan, sekarang ini Wardah merambah 30 % market share di product kosmetik dekoratif serta delapan % product skin care. Wardah berkemauan jadi raja di negeri sendiri dengan pasar Indonesia yang disebutnya masihlah begitu luas serta selalu berkembang.

Wardah juga jadi merk Indonesia pertama yang masuk kedalam kelompok Global Fastest Growing Brand 2014-2015, berdasar pada data Euromonitor International In Cosmetics Paris 2016. Keberhasilan dengan merk Wardah itu dilanjutkan PTI dengan melaunching beberapa merk lain di Indonesia.

Terkecuali Putri serta Wardah, kata Nurhayati, PTI juga membawahi merk kosmetik ala Korea bernama Emina, riasan profesional Make Over, serta product tata rambut profesioal IX. Dapat dibuktikan, semuanya product itu dimaksud Nurhayati tumbuh baik tanpa ada label syariah, walau pabrik PTI memanglah telah bersertifikasi halal.

” Kesempatan industri kosmetik terbuka lebar, namun kembali pada, janganlah cuma terjerat dengan label halal, tetap harus mesti semakin bagus mutunya dengan beberapa kompetitor, ” tutur penerima penghargaan Ganesa Wirya Layanan Paling utama dari ITB pada 2013 itu.

sumber : REPUBLIKA. CO. ID,

Posted on: March 31, 2017, by : aditya rizalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *