Inilah Perlunya Tanda Peringatan Saat Berhenti Darurat

Screenshot_14

Berhenti di tepi jalan lantaran ada keadaan darurat baiknya tidak dikerjakan asal-asalan. Ada prosedur yang perlu diikuti supaya bahaya kecelakaan bisa terlepas. Mengenai prosedur yang disebut yakni menempatkan sinyal peringatan untuk memberitahu ingindara lain.

Prosedur itu ditata dalam ketentuan pemerintah, yaitu pada Pasal 121 ayat (1) UU No. 22 Th. 2009 mengenai Lantas Lintas serta Angkutan Jalan yang berbunyi ” Tiap-tiap pengemudi kendaraan bermotor harus menempatkan segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain ketika berhenti atau parkir dalam kondisi darurat di jalan. ”

Ini artinya pemasangan sinyal peringatan adalah keharusan untuk beberapa ingindara yang ada dalam keadaan itu. Jika tidak bertindak diatas, ingindara bisa dipakai hukuman.

Hal itu ditata dalam Pasal 298 UU No. 22 Th. 2009 mengenai Lantas Lintas serta Angkutan Jalan yang berbunyi ” Tiap-tiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yg tidak menempatkan segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain ketika berhenti atau parkir dalam kondisi darurat di jalan seperti disebut dalam Pasal 121 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bln. atau denda paling banyak Rp 500. 000 (lima ratus ribu rupiah). ”

Lebih parahnya lagi, bila kelalaian itu mengakibatkan kecelakaan yang menyingkirkan nyawa seorang. Hukuman yang lebih berat lagi bisa dipakai..

Seperti tertuang pada Pasal 310 ayat (4) UU No. 22 Th. 2009 mengenai Lantas Lintas serta Angkutan Jalan yang berbunyi ” Dalam soal kecelakaan seperti disebut pada ayat (3) yang menyebabkan orang lain wafat dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) th. serta/atau denda paling banyak Rp12. 000. 000 (dua belas juta rupiah).

sumber : Otosia. com –

Posted on: March 24, 2017, by : aditya rizalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *