Alasan Sapi Indonesia Terlihat Kurus

screen-09-34-4127-09-2016

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE — Lembaga pemerhati dan peneliti industri daging dan ternak sapi, Meat and Livestock Australia (MLA), mencatat sudah tiga kali terjadi rekor jumlah daging dan ternak sapi yang diekspor Australia.

Negara-negara di Timur Tengah menjadi pasar vital bagi Australia, disusul dengan Amerika Serikat, Cina, dan Jepang. Sementara di negara-negara kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan Filipina menjadi pasar tujuan utama pemasaran daging dan sapi hidup asal Australia.

Dalam situs resminya, MLA mencatat 74 persen produksi sapi di Australia diekspor di 2014, meski di tahun-tahun selanjutnya jumlahnya diprediksi akan menurun hingga di kisaran 70 persen.

Menurut David Spencer, salah satu peternak asal Australia, salah satu kunci keberhasilan Australia sebagai eksportir daging sapi adalah produk sapi-sapinya yang berkualitas tinggi.

“Di kawasan Australia utara kita memproduksi sapi-sapi dengan kualitas tinggi, karena kami selalu menjaga keaslian keturunan sapi-sapi unggulan,” ujar David saat ditemui di Royal Melbourne Show 2016 yang digelar di Melbourne Showgrounds.

Menurutnya, tak hanya itu, kawin silang dari bibit-bibit unggulan terus diupayakan agar dapat menghasilkan daging-daging berkualitas premium.

“Untuk mendapatkan daging yang berkualitas, kami serius menjaga keunggulan dari jenis-jenis sapi, bahkan bisa membutuhkan sampai 50 tahun untuk produksi daging yang sangat berkualitas. Daging premium kini mendapat pengaruh dari jenis daging wagyu yang memilki marbling atau serat-serat putih yang tersebar pada daging,” jelas David.

Jenis daging ‘Wagyu’ dari Australia, yang memiliki lebih banyak ‘marble’ atau serat lemak putih.
Jenis daging ‘Wagyu’ dari Australia, yang memiliki lebih banyak ‘marble’ atau serat lemak putih.
Serat-serat ini sebenarnya adalah lemak yang baik bagi kesehatan, dibandingkan lemak pada daging biasa. Serat ini pun menciptakan sensasi gurih dan lumer di mulut.

“Harganya memang lebih mahal, tetapi semakin banyak orang-orang Asia yang sudah mengenal dan menggemari daging-daging empuk dengan kualitas premium, itulah alasannya peternak Australia harus menghasilkan produk daging dengan kualitas yang memenuhi kebutuhan,” katanya.

Mengapa Sapi di Indonesia Terlihat Lebih Kurus?

Menurut laporan keluaran Departemen Industri Primer di negara bagian New South Wales, sapi dewasa memiliki berat rata-rata sekitar 750 kilogram. Seperti yang terlihat dalam penjurian sapi-sapi di Royal Melbourne Show, Ahad (25/9), sapi-sapi di Australia terlihat sangat besar dan gemuk.

Ketika ditanya mengapa sapi-sapi di Indonesia tidak memiliki karakter fisik yang sama, David mengatakan makanan bukan menjadi faktornya. “Mungkin Anda [Indonesia] tidak memiliki dasar genetik yang kuat untuk sapi. Belum lagi dengan turning over yang cepat, sehingga tidak menjaga keunggulannya,” jelasnya.

Mungkin dikarenakan kebutuhan yang tinggi pula sehingga daging lebih banyak dipotong dengan cepat, ketimbang terus dikawinkan dan diternakan untuk mendapatkan kualitas yang baik. “Di Australia, peternakan-peternakan yang ada itu luasnya besar dan cukup produktif dalam menghasilkan produk-produk unggulan, mungkin di Indonesia skalanya masih terbilang kecil,” katanya.

Menanggapi soal kepemilikan asing dalam peternakan Australia, David menjelaskan pemerintah Australia harus bersikap terbuka, tapi tetap fleksibel.

“Asalkan masih memperkerjakan warga Australia, berinvestasi pada biaya operasional, dan membayar pajak, serta tidak tidak terlalu campur terlalu dalam untuk urusan teknis, saya rasa tidak ada masalah,” ujarnya.

David mengaku jumlah kepemilikan asing di sektor peternakan Australia, seperti milik investor Cina, saat ini masih kurang dari satu persen. Saat ini, India masih menjadi negara pengekspor daging sapi terbesar di dunia, sementara Australia berada di urutan ketiga setelah Brasil, menurut laporan USDA di 2016.

Sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/bisnis-investasi/alasan-sapi-indonesia-terlihat-kurus/7878328

Posted on: September 27, 2016, by : aditya rizalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *